Senin, 10 April 2023

Transkrip Tugu Waseso

 

TRANSKRIP

Legenda-Jawa-Jawa-Pandanan di Klaten

Samsuri, 74, lelaki

Pensiunan PNS, Jawa, Klaten.

Jawa, Indonesia.

Klaten.

25 Oktober 2021 dan

8 Maret 2023

 

TUGU WASESO

            Tugu Waseso merupakan monumen dari kisah pertemuan antara Ki Karsoredjo dengan Ir. Soekarno. Dikisahkan, pertemuan itu terjadi antara tahun 1934-1935. Tugu Waseso berasal dari Tugu Waseso Negoro yang berarti Tugu Penguasa Negara, karena pada waktu itu Ir. Soekarno meminta izin kepada Paku buwono X, selaku raja Mataram Solo untuk membantu melawan penjajah Belanda untuk merebut Kemerdekaan Indonesia. Kemudian, Paku Buwono X memerintahkan Ir. Soekarno untuk meminta doa restu kepada Ki Karsoredjo di Dukuh Pandanan, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Paku Buwono X memberikan restu kepada Bung Karno dengan berkata “Prajurit di tanah Jawa kalau akan menghadapi perang tidak perlu membawa senjata, cukup dengan mengibaskan kain panjang saja Belanda akan pergi dan pesan terakhirku aku mempunyai saudara laki-laki bernama Kang Karsoredjo rumahnya di Dukuh Pandanan, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten. Tolong dicari, kalau bisa bertemu minta doa restu, kalau diberikan apa permintaanmu banyak tercapai”.

            Diceritakan, kala itu Ir. Soekarno mencari Ki Karsoredjo kerumahnya, namun sang Ki Karsoredjo tidak ada di rumah. Dicarilah ke sawah, dan bertemulah kedua orang hebat tersebut di tengah sawah. Di tempat bertemunya kedua orang hebat itulah kemudian dibangun Tugu Waseso, dengan semangat gotong royong oleh seluruh warga Pandanan, kerabat dekat, dan masyarakat, beserta bupati, camat dan anggota kelurahan Soropaten sebagai simbolik peringatan bagi sejarah Indonesia.

            Ki Karsoredjo dan Ir. Soekarno merupakan dua tokoh besar, yakni Sang Proklamator Kemerdekaan sekaligus Presiden pertama Indonesia dan tokoh masyarakat Dukuh Pandanan, Pada saat itu, keduanya mempunyai peran penting untuk mewujudkan Kemerdekaan Negara Indonesia. Monumen berbentuk Tugu dipilih karena melambangkan jati diri manusia. Tugu yang mempunyai bentuk tegak lurus dan bulat, artinya manusia harus mempunyai tekad yang bulat. Bangunan Tugu Waseso mempunyai satu pintu pendek dengan ciri khas orang Jawa, bila memasuki ruangan hendaknya merunduk sebagai tanda penghormatan. Ventilasi atau lubang pada Tugu Waseso berjumlah ganjil yaitu sembilan, yang mengandung makna “suryo” yang berarti matahari, “condro” yang berarti bulan, “kartika” yang berarti bintang, “bumi”, “angin”, “geni” yang berarti api, “api”, “roh suci”, dan “kahanan” atau suasana. Kesembilan hal tersebut merupakan hal-hal yang melambangkan kehidupan.

            Di dalam Tugu Waseso, terdapat tangga naik dengan jumlah lima buah anak tangga yang melambangkan bahwa hati manusia mempunyai lima tingkatan, yakni amarah (marah), lawwamah (menyesali diri), mulhammah (sombong), sofiah (angkuh), dan muthmainnah (bijaksana). Tinggi bangunan Tugu Waseso adalah 12 meter dan mempunyai lebar 4 meter. Ketinggian tersebut melambangkan, bila seseorang telah mencapai puncak atas, jangan lupa untuk menoleh kebawah, memberi pelajaran supaya kita tidak sombong setelah mencapai kesuksesan. Lantas tempat pertemuan antara Ir. Soekarno dan Ki Karsoredjo itu dibangun tugu sebagai pengingat. Tugu itu diberi nama Waseso yang artinya kuat. Saat ini, Tugu Waseso kian moncer setelah banyak orang yang datang ketempat itu untuk berziarah, meminta kesembuhan dan mengunggah swafoto mereka di media sosial. Tugu itu berdiri di area persawahan yang berdekatan dengan sendang. Selain sebagai tugu pengingat, area tersebut juga terdapat pamali dan anjuran yang harus dilakukan masyarakat khususnya pengunjung yang datang. Pamali dan anjuran di Tugu Waseso ini adalah:

  1.  Apabila hendak ziarah atau masuk ke area Tugu Waseso harus mengucapkan salam atau kulo nuwun karena tempat tersebut merupakan area pemakaman dan salah satunya makam Ki Karsoredjo, Kyai Malang Sumirang (Menantu dari Ki Ageng Gribig Jatinom). Karena seandainya hendak memasuki tempat harus menghormati yang ada di kawasan tersebut baik sesepuh yang sudah meninggal atau orang yang tidak terlihat.
  2. Dilarang meludah sembarangan di area tersebut. Karena kawasan tersebut merupakan tempat suci, sehingga sebagai masyarakat khususnya tamu pendatang harus menjaga kesantunan  dan membuang ludah salah satu hal yang tidak sopan apabila dilakukan ditempat suci apalagi tempat tersebut terdapat makam atau tempat-tempat yang lain.
  3. Apabila ingin duduk di sekitar tugu dilarang membelakangi 4 pancuran yang terdapat di sekitaran daerah tersebut, karena tempat tersebut dijadikan sebagai tempat untuk meminta kesembuhan bagi orang sakit dengan cara memutari tugu dulu baru kemudian kepancuran yang berada di dekat tugu Baskoro dan masih sangat sakral. Menurut narasumber, pentingnya dari kawasan Tugu Waseso adalah air pancuran itu. Air pancuran tersebut diberi nama sendang sri sidomulyo.
  4. Memakai baju harus sopan dan wajar (jangan menutupi badan menggunakan sarung secara tertutup atau biasa di sebut seperti maling karena belum lama terdapat kejadian orang tersebut di gigit oleh seekor ular). Menurut narasumber pakaian bagus dan sopan tidak ada batasnya, karena hal terkecil sebagai pendatang yang ingin ziarah atau hendak foto-foto merupakan bentuk kita dalam menghargai tempat tersebut.
  5. Apabila berbicara harus yang baik, sopan dan tidak boleh bicara jelek atau kotor. Karena berkata kotor bisa menimbulkan kemarahan hingga dendam dari orang yang kamu kata-kata secara kasar. Berkata kotor juga tidak baik untuk diri sendiri karena kata-kata buruk mengandung energi negatif, yang jika dipelihara bisa berdampak buruk pada kondisi mental dan pikiran kita.
  6. Jangan suka berbohong di area tersebut karena belum lama juga terdapat seseorang yang mengaku Kyai dari Beji kemudian membohongi orang Solo. Setelah itu, karena telah membohongi di area tersebut pelaku atau orang mengaku Kyai meninggal dan orang yang di bohongi menjadi orang bingung.
  7. Apabila ingin meminta kesembuhan bagi yang sedang sakit harus ke pancuran yang ada di dekat Menara Baskoro dengan aturan kalau mengambil air dengan membuka tutup botol dengan tangan kanan dan mengambilnya dari pancuran dengan menggunakan tangan kiri. Harus menggunakan botol atau wadah dengan warna putih atau bening dan tidak berwarna.
  8. Dilarang membakar kemenyam di atas Tugu Waseso untuk hal-hal yang kurang baik, karena belum lama juga terdapat kejadian bahwa orang tersebut jatuh dari atas kemudian meninggal dunia dengan keadaan yang mengenaskan.

            Tradisi budaya Jawa yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah wayangan, suro, kirab budaya dan sadranan. Kegiatan wayangan dilaksanakan setiap Jum’at Pon yang diadakan di bangsal makam. Kegiatan suro dan kirab budaya dilaksanakan pada tanggal 8 sesuai kalender Jawa di bulan suro dan kegiatan sadranan dilaksanakan tanggal 20 pada hitungan Jawa lama. Demikian sedikit cerita yang terdapat di Tugu Waseso di Pandanan, hal-hal tersebut dapat diambil kesimpulan yang terbaik dan menjadi pengingat atau peringatan untuk diri sendiri.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda