Transkrip Tugu Waseso
TRANSKRIP
Legenda-Jawa-Jawa-Pandanan di Klaten
Samsuri,
74, lelaki
Pensiunan
PNS, Jawa, Klaten.
Jawa,
Indonesia.
Klaten.
25
Oktober 2021 dan
8
Maret 2023
TUGU
WASESO
Tugu Waseso merupakan monumen
dari kisah pertemuan antara Ki Karsoredjo dengan Ir. Soekarno. Dikisahkan,
pertemuan itu terjadi antara tahun 1934-1935. Tugu Waseso berasal dari Tugu
Waseso Negoro yang berarti Tugu Penguasa Negara, karena pada waktu itu Ir.
Soekarno meminta izin kepada Paku buwono X, selaku raja Mataram Solo untuk membantu
melawan penjajah Belanda untuk merebut Kemerdekaan Indonesia. Kemudian, Paku
Buwono X memerintahkan Ir. Soekarno untuk meminta doa restu kepada Ki
Karsoredjo di Dukuh Pandanan, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Kabupaten
Klaten, Jawa Tengah. Paku Buwono X memberikan restu kepada Bung Karno dengan
berkata “Prajurit di tanah Jawa kalau akan menghadapi perang tidak perlu
membawa senjata, cukup dengan mengibaskan kain panjang saja Belanda akan pergi
dan pesan terakhirku aku mempunyai saudara laki-laki bernama Kang Karsoredjo
rumahnya di Dukuh Pandanan, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Kabupaten
Klaten. Tolong dicari, kalau bisa bertemu minta doa restu, kalau diberikan apa
permintaanmu banyak tercapai”.
Diceritakan, kala itu Ir. Soekarno
mencari Ki Karsoredjo kerumahnya, namun sang Ki Karsoredjo tidak ada di rumah.
Dicarilah ke sawah, dan bertemulah kedua orang hebat tersebut di tengah sawah.
Di tempat bertemunya kedua orang hebat itulah kemudian dibangun Tugu Waseso,
dengan semangat gotong royong oleh seluruh warga Pandanan, kerabat dekat, dan
masyarakat, beserta bupati, camat dan anggota kelurahan Soropaten sebagai
simbolik peringatan bagi sejarah Indonesia.
Ki Karsoredjo dan Ir. Soekarno
merupakan dua tokoh besar, yakni Sang Proklamator Kemerdekaan sekaligus
Presiden pertama Indonesia dan tokoh masyarakat Dukuh Pandanan, Pada saat itu,
keduanya mempunyai peran penting untuk mewujudkan Kemerdekaan Negara Indonesia.
Monumen berbentuk Tugu dipilih karena melambangkan jati diri manusia. Tugu yang
mempunyai bentuk tegak lurus dan bulat, artinya manusia harus mempunyai tekad
yang bulat. Bangunan Tugu Waseso mempunyai satu pintu pendek dengan ciri
khas orang Jawa, bila memasuki ruangan hendaknya merunduk sebagai tanda
penghormatan. Ventilasi atau lubang pada Tugu Waseso berjumlah ganjil
yaitu sembilan, yang mengandung makna “suryo” yang berarti matahari, “condro”
yang berarti bulan, “kartika” yang berarti bintang, “bumi”, “angin”, “geni”
yang berarti api, “api”, “roh suci”, dan “kahanan” atau suasana. Kesembilan hal
tersebut merupakan hal-hal yang melambangkan kehidupan.
Di dalam Tugu Waseso,
terdapat tangga naik dengan jumlah lima buah anak tangga yang melambangkan
bahwa hati manusia mempunyai lima tingkatan, yakni amarah (marah), lawwamah
(menyesali diri), mulhammah (sombong), sofiah (angkuh), dan muthmainnah
(bijaksana). Tinggi bangunan Tugu Waseso adalah 12 meter dan mempunyai
lebar 4 meter. Ketinggian tersebut melambangkan, bila seseorang telah mencapai
puncak atas, jangan lupa untuk menoleh kebawah, memberi pelajaran supaya kita
tidak sombong setelah mencapai kesuksesan. Lantas tempat pertemuan antara Ir.
Soekarno dan Ki Karsoredjo itu dibangun tugu sebagai pengingat. Tugu itu diberi
nama Waseso yang artinya kuat. Saat ini, Tugu Waseso kian moncer setelah
banyak orang yang datang ketempat itu untuk berziarah, meminta kesembuhan dan
mengunggah swafoto mereka di media sosial. Tugu itu berdiri di area persawahan
yang berdekatan dengan sendang. Selain sebagai tugu pengingat, area tersebut
juga terdapat pamali dan anjuran yang harus dilakukan masyarakat khususnya
pengunjung yang datang. Pamali dan anjuran di Tugu Waseso ini adalah:
- Apabila
hendak ziarah atau masuk ke area Tugu Waseso harus mengucapkan salam
atau kulo nuwun karena tempat tersebut merupakan area pemakaman dan salah
satunya makam Ki Karsoredjo, Kyai Malang Sumirang (Menantu dari Ki Ageng Gribig
Jatinom). Karena seandainya hendak memasuki tempat harus menghormati yang ada
di kawasan tersebut baik sesepuh yang sudah meninggal atau orang yang tidak
terlihat.
- Dilarang
meludah sembarangan di area tersebut. Karena kawasan tersebut merupakan tempat
suci, sehingga sebagai masyarakat khususnya tamu pendatang harus menjaga
kesantunan dan membuang ludah salah satu
hal yang tidak sopan apabila dilakukan ditempat suci apalagi tempat tersebut
terdapat makam atau tempat-tempat yang lain.
- Apabila
ingin duduk di sekitar tugu dilarang membelakangi 4 pancuran yang terdapat di
sekitaran daerah tersebut, karena tempat tersebut dijadikan sebagai tempat
untuk meminta kesembuhan bagi orang sakit dengan cara memutari tugu dulu baru
kemudian kepancuran yang berada di dekat tugu Baskoro dan masih sangat sakral.
Menurut narasumber, pentingnya dari kawasan Tugu Waseso adalah air
pancuran itu. Air pancuran tersebut diberi nama sendang sri sidomulyo.
- Memakai
baju harus sopan dan wajar (jangan menutupi badan menggunakan sarung secara
tertutup atau biasa di sebut seperti maling karena belum lama terdapat kejadian
orang tersebut di gigit oleh seekor ular). Menurut narasumber pakaian bagus dan
sopan tidak ada batasnya, karena hal terkecil sebagai pendatang yang ingin
ziarah atau hendak foto-foto merupakan bentuk kita dalam menghargai tempat
tersebut.
- Apabila
berbicara harus yang baik, sopan dan tidak boleh bicara jelek atau kotor.
Karena berkata kotor bisa menimbulkan kemarahan hingga dendam dari orang yang
kamu kata-kata secara kasar. Berkata kotor juga tidak baik untuk diri sendiri
karena kata-kata buruk mengandung energi negatif, yang jika dipelihara bisa
berdampak buruk pada kondisi mental dan pikiran kita.
- Jangan
suka berbohong di area tersebut karena belum lama juga terdapat seseorang yang
mengaku Kyai dari Beji kemudian membohongi orang Solo. Setelah itu, karena
telah membohongi di area tersebut pelaku atau orang mengaku Kyai meninggal dan
orang yang di bohongi menjadi orang bingung.
- Apabila
ingin meminta kesembuhan bagi yang sedang sakit harus ke pancuran yang ada di
dekat Menara Baskoro dengan aturan kalau mengambil air dengan membuka tutup
botol dengan tangan kanan dan mengambilnya dari pancuran dengan menggunakan
tangan kiri. Harus menggunakan botol atau wadah dengan warna putih atau bening
dan tidak berwarna.
- Dilarang
membakar kemenyam di atas Tugu Waseso untuk hal-hal yang kurang baik,
karena belum lama juga terdapat kejadian bahwa orang tersebut jatuh dari atas
kemudian meninggal dunia dengan keadaan yang mengenaskan.
Tradisi budaya Jawa yang masih
dilestarikan hingga saat ini adalah wayangan, suro, kirab budaya dan sadranan.
Kegiatan wayangan dilaksanakan setiap Jum’at Pon yang diadakan di bangsal
makam. Kegiatan suro dan kirab budaya dilaksanakan pada tanggal 8 sesuai
kalender Jawa di bulan suro dan kegiatan sadranan dilaksanakan tanggal 20 pada
hitungan Jawa lama. Demikian sedikit cerita yang terdapat di Tugu Waseso
di Pandanan, hal-hal tersebut dapat diambil kesimpulan yang terbaik dan menjadi
pengingat atau peringatan untuk diri sendiri.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda