Nilai-nilai Kearifan Lokal Legenda Tugu Waseso
NILAI-NILAI
KEARIFAN LOKAL LEGENDA TUGU WASESO KLATEN
Kearifan lokal merupakan nilai-nilai luhur
yang terkandung dalam kekayaan budaya lokal, yang tetap bertahan dan relevan
sepanjang zaman. (Ismawati, 2019: 2). Kearifan lokal merupakan bagian dari
budaya suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat yang
diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi melalui cerita
dari mulut ke mulut (Ismawati, 2020: 67). Nilai-nilai kearifan lokal dalam
legenda Tugu Waseso dipaparkan oleh
penutur melalui kata dan kalimat-kalimat yang terdapat dalam cerita teks
tersebut. Nilai kearifan lokal yang terkandung dalam legenda Tugu Waseso berupa pamali (larangan) dan
anjuran.
1.
Pamali
Pamali
(larangan) merupakan suatu larangan yang jika dilakukan akan mendatangkan
celaka (Danadibrata, 2009: 489). Pamali berperan pada aturan masyarakat di
suatu daerah sebagai bentuk kearifan lokal dari daerah tersebut. Pamali
merupakan bentuk kepercayaan yang dibuat agar dipatuhi oleh masyarakat sekitar
atau kalangan luas, apabila larangan tersebut dilanggar maka akan mendapatkan
hukuman. Pamali atau tabu adalah pernyataan terlarang yang muncul sehubungan
dengan keberadaan Tugu Waseso di
Dukuh Pandanan, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten. Pamali
dipercaya oleh masyarakat Dukuh Pandanan sebagai bentuk aturan yang harus
ditaati.
Bukti
keberadaan legenda Tugu Waseso ada
teks atau cerita dan monumen tempat
pertemuan Ki Karsoredjo dengan Ir. Soekarno di Dukuh Pandanan, Desa Soropaten,
Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten. Dalam legenda Tugu Waseso ditemukan pamali yang tidak boleh dilanggar oleh
masyarakat. Pamali tersebut diperuntukkan kepada masyarakat dan pengunjung yang
datang di Tugu Waseso, informasi
dapat dilakukan dengan mengakses website
berupa blogspot Tugu Waseso.
Adapun
pamali yang terdapat pada legenda Tugu
Waseso antara lain:
a. Dilarang
meludah sembarangan di area Tugu Waseso
Orang-orang yang berkunjung ke Tugu Waseso dilarang untuk meludah sembarangan di area tersebut, karena pamali merupakan pernyataan terlarang yang tidak boleh dilanggar oleh masyarakat. Hal ini diketahui berdasarkan penuturan narasumber (S) petikan cerita tersebut sebagai berikut.
...
“Jangan meludah di area Tugu Waseso karena kawasan tersebut merupakan tempat suci, sebagai masyarakat khususnya tamu pendatang harus menjaga kesantunan dan membuang ludah merupakan salah satu yang tidak sopan apabila dilakukan di tempat suci dan kawasan tersebut terdapat makam.”
...
Kearifan lokal dalam teks Tugu Waseso dianggap pamali yaitu salah satunya dilarang meludah sembarangan di area tersebut. Meludah merupakan etika yang tidak sopan dilakukan karena dinilai dalam etika masyarakat Dukuh Pandanan tidak sopan. Area Tugu Waseso dianggap sebagai daerah yang sakral (suci), sehingga dilarang membuang kotoran di tempat tersebut. Hal ini dapat diketahui bahwa apabila pamali tersebut dilanggar cilaka atau kesialan yang didapat. Oleh karena itu, sebagai tamu atau pengunjung harus menjaga kesantunan dan menjaga kesucian area Tugu Waseso. Dengan demikian, tamu atau pengunjung dapat melestarikan peninggalan leluhur artinya melestarikan budaya, menghormati larangan dan menjaga kesopanan di kawasan tersebut agar dihindarkan dari kesialan.
b. Dilarang
membelakangi empat pancuran di area Tugu
Waseso
Orang-orang yang berkunjung atau ziarah di area Tugu Waseso apabila ingin duduk dilarang tidak boleh membelakangi empat pancuran yang terdapat di sekitaran daerah tersebut. Hal ini dapat diketahui berdasarkan penuturan narasumber (S) petikan cerita tersebut sebagai berikut.
…
“Apabila
ingin duduk di sekitar tugu dilarang membelakangi 4 pancuran yang terdapat di
sekitaran daerah tersebut, karena tempat tersebut dijadikan sebagai tempat
untuk meminta kesembuhan bagi orang sakit dengan cara memutari tugu dulu baru
kemudian kepancuran yang berada di dekat tugu Baskoro dan masih sangat sakral.
Menurut narasumber, pentingnya dari kawasan Tugu Waseso adalah air pancuran
itu. Air pancuran tersebut diberi nama sendang sri sidomulyo.”
…
Hal ini dapat diketahui bahwa selain adanya Tugu Waseso tempat atau kawasan tersebut
juga terdapat sebanyak empat pancuran yang masih diyakini oleh masyarakat untuk
meminta kesembuhan dengan cara memutari Tugu
Waseso terlebih dahulu sesuai cerita dari peneliti. Selain itu, air
pancuran tersebut masih ada sampai sekarang dan bersifat sangat sakral bagi
yang meyakini tempat tersebut untuk meminta kesembuhan bagi orang sakit. Menurut
peneliti, pentingnya dari kawasan Tugu
Waseso tersebut adalah air pancuran.
c. Dilarang
berbicara kotor atau jelek
Orang-orang
yang datang ke kawasan tersebut untuk menjaga perkataan dan perbuatan agar
tempat suci tidak dapat tercemar walaupun hanya dengan berbicara. Hal ini
dilakukan sebagai tanda menghormati tempat sakral (suci) di area Tugu Waseso. Hal ini dapat diketahui
berdasarkan penuturan narasumber (S) petikan cerita tersebut sebagai berikut.
…
“Apabila jika berkunjung di Tugu Waseso tidak boleh bicara jelek
atau kotor. Karena berkata kotor bisa menimbulkan kemarahan hingga dendam dari
orang yang berbicara dengan kata-kata yang kasar.”
…
Hal ini dapat diketahui bahwa berkata kotor
tidak baik dilakukan atau diucapkan di area Tugu
Waseso. Di tempat yang sakral (suci) harus menjaga perkataan untuk tidak
berkata kotor, akibatnya kata-kata kotor mengandung energi negatif yang jika
dilakukan terus menerus bisa berdampak buruk pada kondisi mental dan pikiran,
sehingga menjadi kebiasaan dalam berbicara jelek atau kotor.
d. Dilarang
berbohong di area Tugu Waseso
Orang-orang yang berkunjung atau berziarah ke
tempat tersebut harus mempunyai niat jujur, jangan berbohong dan dalam keadaan
bersih. Hal tersebut diketahui berdasarkan penuturan narasumber (S) pada
petikan cerita sebagai berikut.
…
“Jangan suka berbohong di area tersebut, karena belum lama ada
seseorang yang mengakui Kyai dari Beji kemudian membohongi orang Solo. Setelah
itu, karena telah membohongi di area tersebut pelaku atau orang yang mengaku
Kyai tersebut meninggal dan orang yang telah dibohong menjadi orang bingung.”
…
Hal
ini dapat diketahui menurut peneliti bahwa nilai kearifan lokal dalam berbohong
merupakan hal buruk yang tidak boleh dilakukan, karena pada dasarnya kejujuran
akan membawa kita ke dalam hal-hal yang baik. Akibat dari melanggar pamali
dilarang berbohong di area Tugu Waseso
maka orang yang berbohong tersebut meninggal dunia dan korbannya menjadi orang
bingung.
e. Dilarang
membakar kemenyan di atas Tugu Waseso
untuk hal-hal yang kurang baik
Orang-orang yang berkunjung atau datang ke Tugu Waseso tidak diperbolehkan untuk
membakar kemenyan di atas tugu untuk hal yang kurang baik. Hal ini dapat
diketahui berdasarkan penuturan narasumber (S) pada petikan cerita tersebut
sebagai berikut.
…
“Jangan membakar kemenyan di atas Tugu Waseso untuk hal-hal yang kurang baik, karena belum lama
terdapat kejadian bahwa orang tersebut jatuh dari atas Tugu kemudian meninggal
dunia dalam keadaan yang mengenaskan.”
…
Hal ini dapat diketahui bahwa nilai kearifan
lokal membakar kemenyan merupakan hal yang biasa dilakukan di area Tugu Waseso untuk hal-hal baik. Membakar
kemenyan menurut peneliti tidak diperbolehkan di atas Tugu Waseso, melainkan di tempat yang memang sudah diizinkan untuk
membakarnya. Tujuan membakar kemenyan menurut ajaran Islam digunakan untuk
wewangian dan tidak digunakan untuk hal-hal buruk seperti meminta pesugihan dan
akan berdampak buruk kepada orang yang melanggarnya.
Berdasarkan uraian tersebut dapat dinyatakan
bahwa larangan dari legenda Tugu Waseso
yang harus dipatuhi oleh masyarakat dari semua kalangan yakni larangan meludah
sembarangan, larangan membelakangi empat pancuran, larangan berbicara kotor
atau jelek, larangan berbohong di area Tugu
Waseso dan larangan membakar kemenyan di atas Tugu Waseso untuk hal-hal yang kurang baik.
2.
Anjuran
Selain larangan, dalam
legenda Tugu Waseso juga terdapat
anjuran yang harus dilakukan masyarakat jika akan berkunjung, berziarah pada
area tersebut. Anjuran merupakan nasihat untuk mengajak kepada kebaikan dan
mencegah dari keburukan (KBBI: 2016). Anjuran yang terdapat pada legenda Tugu Waseso antara lain.
a. Anjuran
mengucapkan salam atau kulo nuwun
Masyarakat khususnya pengunjung jika berziarah
dan masuk ke dalam area Tugu Waseso
harus mengucapkan salam atau kulo nuwun. Hal ini diketahui berdasarkan
penuturan narasumber (S) petikan cerita tersebut sebagai berikut.
…
“Apabila hendak ziarah atau masuk ke area Tugu
Waseso harus mengucapkan salam atau kulo nuwun karena tempat tersebut
merupakan area pemakaman dan salah satunya makam Ki Karsoredjo, Kyai Malang
Sumirang (Menantu dari Ki Ageng Gribig Jatinom).”
…
Mengucapkan salam menurut agama Islam merupakan
adab yang dianjurkan untuk seluruh umat. Karena jika hendak memasuki tempat harus
menghormati yang ada di kawasan tersebut baik sesepuh yang sudah meninggal atau
menghormati makhluk yang bertempat tinggal atau bersemayam. Secara nilai
sosial, jika seseorang yang hendak memasuki tempat apapun harus uluk salam
dalam tuturan orang Jawa pada zaman dahulu.
b. Anjuran
menggunakan pakaian yang santun dan wajar
Orang-orang yang berziarah atau datang ke area Tugu Waseso harus menggunakan pakaian
yang santun dan wajar. Karena pakaian yang baik akan memperlihatkan keindahan,
kesantunan, kerapian bagi yang memakainya. Hal ini diketahui berdasarkan
penuturan narasumber (S) petikan cerita tersebut sebagai berikut.
…
“Memakai baju harus sopan dan wajar. Jangan menutupi badan menggunakan sarung secara tertutup atau biasa di sebut seperti maling karena belum lama terdapat kejadian orang tersebut di gigit oleh seekor ular.”
…
Menurut peneliti menggunakan pakaian yang santun, bagus
dan wajar digunakan untuk berziarah karena merupakan kegiatan yang bersifat
religi. Sehingga, hal terkecil sebagai
pendatang yang berziarah merupakan bentuk kita dalam menghargai dan menghomati
tempat sakral tersebut.
c. Anjuran
apabila ingin meminta kesembuhan bagi yang sedang sakit
Orang-orang yang datang untuk meminta kesembuhan bagi yang sedang sakit harus melewati proses aturan yang ada. Hal ini diketahui berdasarkan penuturan narasumber (S) petikan cerita tersebut sebagai berikut.
…
“Apabila
ingin meminta kesembuhan bagi yang sedang sakit harus ke pancuran yang ada di
dekat Menara Baskoro dengan aturan kalau mengambil air dengan membuka tutup
botol dengan tangan kanan dan mengambilnya dari pancuran dengan tangan kiri.
Jika ingin mengambil air dari pancuran tersebut harus menggunakan botol atau
wadah dengan warna putih atau bening dan tidak berwarna.”
…
Hal ini dapat diketahui bahwa peziarah yang datang ke Tugu
Waseso untuk meminta kesembuhan, selain adanya tugu terdapat air pancuran
yang masih diyakini dan dipercaya sebagai air untuk meminta kesembuhan bagi
orang yang sakit.
Anjuran legenda Tugu Waseso kepada masyarakat meliputi (1) anjuran mengucapkan salam atau kulo nuwun, (2) anjuran menggunakan pakaian yang santun dan wajar, (3) anjuran apabila ingin meminta kesembuhan bagi yang sedang sakit. Anjuran legenda yang terdapat di Tugu Waseso harus ditaati masyarakat.
3. Nilai-nilai kearifan lokal
Berdasarkan
pamali (larangan) dan anjuran yang terdapat pada legenda Tugu Waseso terdapat
nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya sebagai berikut.
a.
Kesantunan
Nilai
kearifan lokal kesantunan ditemukan dalam legenda Tugu Waseso. Nilai ini ditujukan kepada semua masyarakat khususnya
bagi pengunjung di Tugu Waseso. Nilai
kesantunan di dalam teks ditandai dengan simbol anjuran yaitu jika ingin
memasuki ruangan hendaknya merunduk sebagai tanda kehormatan, mengucapkan salam
atau kulo nuwun, menggunakan pakaian harus santun dan wajar. Selain itu
terdapat simbol berupa pamali yaitu larangan meludah, tidak boleh berbicara
jelek atau kotor. Nilai ini dapat dibuktikan pada:
…
“Bangunan Tugu Waseso mempunyai satu pintu pendek dengan ciri khas orang
Jawa, bila memasuki ruangan hendaknya merunduk sebagai tanda penghormatan..”
…
“Apabila hendak ziarah atau masuk
ke area Tugu Waseso harus mengucapkan salam atau kulo
nuwun karena tempat tersebut merupakan area pemakaman dan salah satunya makam
Ki Karsoredjo, Kyai Malang Sumirang (Menantu dari Ki Ageng Gribig Jatinom)..”
…
“Jangan meludah di area Tugu Waseso karena kawasan tersebut
merupakan tempat suci, sehingga sebagai masyarakat khususnya tamu pendatang
harus menjaga kesantunan dan membuang ludah merupakan salah satu yang tidak
sopan apabila dilakukan di tempat suci dan kawasan tersebut terdapat makam.”
…
“Memakai baju harus sopan dan wajar. Jangan
menutupi badan menggunakan sarung secara tertutup atau biasa disebut seperti
maling karena belum lama terdapat kejadian orang tersebut di gigit oleh seekor
ular..”
…
“Apabila jika berkunjung di Tugu Waseso tidak boleh bicara jelek
atau kotor. Karena berkata kotor bisa menimbulkan kemarahan hingga dendam dari
orang yang berbicara dengan kata-kata yang kasar.”
…
Kutipan tersebut membuktikan bahwa nilai kearifan lokal kesantunan terdapat dalam legenda Tugu Waseso. Nilai kesantunan harus dilakukan pada masyarakat khususnya pengunjung atau peziarah yang akan datang ke area Tugu Waseso, karena berperilaku santun tidak ada batasannya yang diterapkan pada tempat yang dianggap sakral dan suci oleh masyarakat setempat.
b. Kejujuran
Nilai kearifan lokal kejujuran ditemukan dalam
legenda Tugu Waseso. Nilai ini
ditujukan kepada semua masyarakat khususnya bagi pengunjung di Tugu Waseso. Nilai kejujuran diartikan
sebagai sikap atau perilaku yang menyatakan secara fakta. Nilai kejujuran dalam
teks ditandai dengan simbol pamali berupa ungkapan “dilarang berbohong di area
tersebut”. Kejujuran diajarkan agar terhindar dari hal buruk karena pada dasarnya
kejujuran akan membawa ke dalam hal-hal yang baik. Nilai kejujuran harus
dilakukan oleh semua masyarakat khususnya pengunjung atau peziarah yang harus
menyampaikan niat atau tujuannya datang ke Tugu
Waseso. Kutipan nilai tersebut dapat dibuktikan pada:
…
“Jangan suka berbohong di area tersebut, karena belum lama ada
seseorang yang mengakui Kyai dari Beji kemudian membohongi orang Solo. Setelah
itu, karena telah membohongi di area tersebut pelaku atau orang yang mengaku
Kyai tersebut meninggal dan orang yang telah dibohong menjadi orang bingung.”
…
Kutipan teks tersebut membuktikan bahwa nilai
kearifan lokal kejujuran terdapat dalam legenda Tugu Waseso. Setiap masyarakat atau pengunjung harus mempunyai niat
yang baik dan jujur untuk datang ke tempat tersebut.
c.
Komitmen
Nilai kearifan lokal komitmen ditemukan dalam
legenda Tugu Waseso. Nilai komitmen
di dalam teks ditandai dengan simbol anjuran yang ditujukan kepada semua
masyarakat khususnya pengunjung untuk mematuhi aturan-aturan yang terdapat di
area Tugu Waseso. Adapun bukti nilai
dari teks legenda tersebut adalah sebagai berikut:
...
“Apabila hendak ziarah atau masuk ke area Tugu Waseso harus
mengucapkan salam atau kulo nuwun karena tempat tersebut merupakan area
pemakaman dan salah satunya makam Ki Karsoredjo, Kyai Malang Sumirang (Menantu
dari Ki Ageng Gribig Jatinom).”
…
“Memakai baju harus sopan dan wajar. Jangan menutupi badan
menggunakan sarung secara tertutup atau biasa di sebut seperti maling karena
belum lama terdapat kejadian orang tersebut di gigit oleh seekor ular.”
…
“Apabila
ingin meminta kesembuhan bagi yang sedang sakit harus ke pancuran yang ada di
dekat Menara Baskoro dengan aturan kalau mengambil air dengan membuka tutup
botol dengan tangan kanan dan mengambilnya dari pancuran dengan tangan kiri.
Jika ingin mengambil air dari pancuran tersebut harus menggunakan botol atau
wadah dengan warna putih atau bening dan tidak berwarna.”
…
Kutipan-kutipan tersebut membuktikan bahwa nilai
kearifan lokal komitmen terdapat dalam legenda Tugu Waseso. Nilai
komitmen menunjukkan bahwa semua masyarakat khususnya pengunjung atau peziarah
harus mematuhi aturan-aturan (pamali dan anjuran) yang terdapat di area Tugu
Waseso. Komitmen tersebut berfungsi agar masyarakat yang datang tetap
menjaga, menghormati dan menjaga tempat sesuai dengan aturan tersebut.
d. Gotong Royong
Nilai kearifan lokal gotong royong ditemukan
dalam legenda Tugu Waseso. Nilai ini
ditandai dengan simbol anjuran yang terdapat pada semangat gotong royong
masyarakat dalam membangun Tugu Waseso
di tempat pertemuan dari Ir. Soekarno dan Ki Karsoredjo yang dilakukan oleh
seluruh warga Pandanan, ungkapan teks, kerabat dekat, masyarakat, bupati, camat
dan anggota kelurahan Soropaten sebagai simbolik peringatan bagi sejarah
Indonesia. Gotong royong merupakan kegiatan yang dilakukan bersama-sama dalam
menyelesaikan pekerjaan hingga selesai. Perilaku ini seperti yang dilakukan
oleh masyarakat tersebut dalam membangun Tugu
Waseso. Adapun nilai dari teks legenda tersebut dapat dibuktikan pada:
…
“Di tempat bertemunya kedua orang hebat itulah
kemudian dibangun Tugu Waseso, dengan
semangat gotong royong oleh seluruh warga Pandanan, kerabat dekat, dan
masyarakat pada umumnya, beserta bupati, camat, dan anggota kelurahan Soropaten
sebagai simbolik peringatan bagi sejarah Indonesia.”
…
Kutipan
tersebut dapat membuktikan bahwa nilai kearifan lokal gotong royong terdapat
dalam legenda Tugu Waseso. Nilai
gotong royong patut dicontoh dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan melaksanakan
kegiatan secara gotong royong dapat meningkatkan rasa kekeluargaan, kerukunan
antaranggota masyarakat dan tokoh-tokoh penting.
e.
Pendidikan
Nilai kearifan lokal pendidikan ditemukan dalam
legenda Tugu Waseso. Nilai ini mengarah pada pendidikan keagamaan. Nilai
pendidikan di dalam teks ditandai dengan simbol anjuran untuk mengucapkan salam
atau kulo nuwun saat memasuki area Tugu
Waseso, karena selain adanya tugu juga terdapat makam. Bukti adanya nilai
ini dapat dibuktikan pada:
…
“Apabila hendak ziarah atau masuk ke area Tugu Waseso harus
mengucapkan salam atau kulo nuwun karena tempat tersebut merupakan area
pemakaman dan salah satunya makam Ki Karsoredjo, Kyai Malang Sumirang (Menantu
dari Ki Ageng Gribig Jatinom).”
…
Kutipan tersebut
membuktikan bahwa legenda Tugu Waseso
mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang digunakan sebagai teladan dalam adab
mengucapkan salam atau kulo nuwun di segala sesuatu tempat untuk nilai pendidikan.
f.
Rasa
Syukur
Nilai kearifan lokal rasa syukur ditemukan
dalam legenda Tugu Waseso. Nilai ini
ditemukan di dalam teks ditandai dengan simbol anjuran pada keyakinan
masyarakat agar tidak sombong setelah mencapai kesuksesan. Kutipan ini dapat
dibuktikan pada:
…
“Tinggi bangunan Tugu Waseso
adalah 12 meter dan lebar 4 meter. Ketinggian tersebut melambangkan, bila
seseorang telah mencapai puncak atas jangan lupa untuk menoleh kebawah dan
memberi pelajaran supaya tidak sombong setelah mencapai kesuksesan.”
…
Kutipan tersebut
membuktikan bahwa nilai kearifan lokal rasa syukur terdapat dalam legenda Tugu Waseso. Nilai rasa syukur di
tunjukkan oleh keyakinan masyarakat bahwa jika ada seseorang telah mencapai
puncak atas jangan lupa untuk menoleh kebawah. Hal ini dilakukan sebagai bentuk
syukur dan memberikan pelajaran supaya tidak sombong setelah mencapai
kesuksesan.”
g.
Pelestarian
dan kreativitas budaya
Nilai kearifan lokal
pelestarian dan kreativitas budaya ditemukan dalam legenda Tugu Waseso. Nilai ini di dalam teks ditandai dengan simbol anjuran
untuk melestarikan cerita Tugu Waseso
menjadi sebuah naskah dan blogspot
yang telah dibuat peneliti. Pelestarian Tugu Waseso dilakukan dengan cara
transformasi kemudian dibukukan. Hal ini digunakan sebagai upaya memanfaatkan, melindungi dan mengelola suatu hal supaya terjaga kelestariannya. Sedangkan kreativitas budaya adalah kebudayaan-kebudayaan yang terdapat dalam Tugu Waseso tersebut. Adapun kutipan nilai ini dapat dibuktikan
pada:
...
“Lantas
tempat pertemuan antara Ir. Soekarno dan Ki Karsoredjo itu dibangun tugu
sebagai pengingat. Tugu itu diberi nama Waseso yang artinya kuat. Saat ini, Tugu
Waseso kian moncer setelah banyak orang yang datang ke tempat itu untuk
berziarah, meminta kesembuhan dan mengunggah swafoto mereka di media sosial.”
...
Kutipan tersebut membuktikan bahwa terdapat nilai pelestarian dan kreativitas budaya yang terkandung dalam legenda Tugu Waseso.
Kearifan lokal perlu dilestarikan untuk memperkokoh ketahanan budaya. Ketahanan budaya lokal tercermin dari eksisnya kegiatan atau pranata sosial, yang berfungsi melayani pengintegrasian kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaannya pada tingkat lokal, sedangkan tingkat masyarakat yang lebih majemuk pranata sosial berfungsi melayani berbagai kelompok kebudayaan pada tingkat nasional (Ismawati & Warsito, 2019: 2).
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal perlu dilestarikan karena untuk memperkokoh ketahanan budaya. Dengan adanya kearifan lokal, nilai-nilai, tradisi, dan kebudayaan masyarakat akan tetap terjaga dan dihormati.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda