Senin, 10 April 2023

Nilai-nilai Kearifan Lokal Legenda Tugu Waseso

 

NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL LEGENDA TUGU WASESO KLATEN

 

Kearifan lokal merupakan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan budaya lokal, yang tetap bertahan dan relevan sepanjang zaman. (Ismawati, 2019: 2). Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi melalui cerita dari mulut ke mulut (Ismawati, 2020: 67). Nilai-nilai kearifan lokal dalam legenda Tugu Waseso dipaparkan oleh penutur melalui kata dan kalimat-kalimat yang terdapat dalam cerita teks tersebut. Nilai kearifan lokal yang terkandung dalam legenda Tugu Waseso berupa pamali (larangan) dan anjuran.

1.      Pamali

Pamali (larangan) merupakan suatu larangan yang jika dilakukan akan mendatangkan celaka (Danadibrata, 2009: 489). Pamali berperan pada aturan masyarakat di suatu daerah sebagai bentuk kearifan lokal dari daerah tersebut. Pamali merupakan bentuk kepercayaan yang dibuat agar dipatuhi oleh masyarakat sekitar atau kalangan luas, apabila larangan tersebut dilanggar maka akan mendapatkan hukuman. Pamali atau tabu adalah pernyataan terlarang yang muncul sehubungan dengan keberadaan Tugu Waseso di Dukuh Pandanan, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten. Pamali dipercaya oleh masyarakat Dukuh Pandanan sebagai bentuk aturan yang harus ditaati.

Bukti keberadaan legenda Tugu Waseso ada teks atau cerita dan  monumen tempat pertemuan Ki Karsoredjo dengan Ir. Soekarno di Dukuh Pandanan, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten. Dalam legenda Tugu Waseso ditemukan pamali yang tidak boleh dilanggar oleh masyarakat. Pamali tersebut diperuntukkan kepada masyarakat dan pengunjung yang datang di Tugu Waseso, informasi dapat dilakukan dengan mengakses website berupa blogspot Tugu Waseso.

Adapun pamali yang terdapat pada legenda Tugu Waseso antara lain:

a.       Dilarang meludah sembarangan di area Tugu Waseso

Orang-orang yang berkunjung ke Tugu Waseso dilarang untuk meludah sembarangan di area tersebut, karena pamali merupakan pernyataan terlarang yang tidak boleh dilanggar oleh masyarakat. Hal ini diketahui berdasarkan penuturan narasumber (S) petikan cerita tersebut sebagai berikut.

...

“Jangan meludah di area Tugu Waseso karena kawasan tersebut merupakan tempat suci, sebagai masyarakat khususnya tamu pendatang harus menjaga kesantunan dan membuang ludah merupakan salah satu yang tidak sopan apabila dilakukan di tempat suci dan kawasan tersebut terdapat makam.”

...

Kearifan lokal dalam teks Tugu Waseso dianggap pamali yaitu salah satunya dilarang meludah sembarangan di area tersebut. Meludah merupakan etika yang tidak sopan dilakukan karena dinilai dalam etika masyarakat Dukuh Pandanan tidak sopan. Area Tugu Waseso dianggap sebagai daerah yang sakral (suci), sehingga dilarang membuang kotoran di tempat tersebut.  Hal ini dapat diketahui bahwa apabila pamali tersebut dilanggar cilaka atau kesialan yang didapat. Oleh karena itu, sebagai tamu atau pengunjung harus menjaga kesantunan dan menjaga kesucian area Tugu Waseso. Dengan demikian, tamu atau pengunjung dapat melestarikan peninggalan leluhur artinya melestarikan budaya, menghormati larangan dan menjaga kesopanan di kawasan tersebut agar dihindarkan dari kesialan.

b.      Dilarang membelakangi empat pancuran di area Tugu Waseso

Orang-orang yang berkunjung atau ziarah di area Tugu Waseso apabila ingin duduk dilarang tidak boleh membelakangi empat pancuran yang terdapat di sekitaran daerah tersebut. Hal ini dapat diketahui berdasarkan penuturan narasumber (S) petikan cerita tersebut sebagai berikut.

“Apabila ingin duduk di sekitar tugu dilarang membelakangi 4 pancuran yang terdapat di sekitaran daerah tersebut, karena tempat tersebut dijadikan sebagai tempat untuk meminta kesembuhan bagi orang sakit dengan cara memutari tugu dulu baru kemudian kepancuran yang berada di dekat tugu Baskoro dan masih sangat sakral. Menurut narasumber, pentingnya dari kawasan Tugu Waseso adalah air pancuran itu. Air pancuran tersebut diberi nama sendang sri sidomulyo.”

 

Hal ini dapat diketahui bahwa selain adanya Tugu Waseso tempat atau kawasan tersebut juga terdapat sebanyak empat pancuran yang masih diyakini oleh masyarakat untuk meminta kesembuhan dengan cara memutari Tugu Waseso terlebih dahulu sesuai cerita dari peneliti. Selain itu, air pancuran tersebut masih ada sampai sekarang dan bersifat sangat sakral bagi yang meyakini tempat tersebut untuk meminta kesembuhan bagi orang sakit. Menurut peneliti, pentingnya dari kawasan Tugu Waseso tersebut adalah air pancuran.

c.       Dilarang berbicara kotor atau jelek

Orang-orang yang datang ke kawasan tersebut untuk menjaga perkataan dan perbuatan agar tempat suci tidak dapat tercemar walaupun hanya dengan berbicara. Hal ini dilakukan sebagai tanda menghormati tempat sakral (suci) di area Tugu Waseso. Hal ini dapat diketahui berdasarkan penuturan narasumber (S) petikan cerita tersebut sebagai berikut.

“Apabila jika berkunjung di Tugu Waseso tidak boleh bicara jelek atau kotor. Karena berkata kotor bisa menimbulkan kemarahan hingga dendam dari orang yang berbicara dengan kata-kata yang kasar.”

Hal ini dapat diketahui bahwa berkata kotor tidak baik dilakukan atau diucapkan di area Tugu Waseso. Di tempat yang sakral (suci) harus menjaga perkataan untuk tidak berkata kotor, akibatnya kata-kata kotor mengandung energi negatif yang jika dilakukan terus menerus bisa berdampak buruk pada kondisi mental dan pikiran, sehingga menjadi kebiasaan dalam berbicara jelek atau kotor.

d.      Dilarang berbohong di area Tugu Waseso

Orang-orang yang berkunjung atau berziarah ke tempat tersebut harus mempunyai niat jujur, jangan berbohong dan dalam keadaan bersih. Hal tersebut diketahui berdasarkan penuturan narasumber (S) pada petikan cerita sebagai berikut.

“Jangan suka berbohong di area tersebut, karena belum lama ada seseorang yang mengakui Kyai dari Beji kemudian membohongi orang Solo. Setelah itu, karena telah membohongi di area tersebut pelaku atau orang yang mengaku Kyai tersebut meninggal dan orang yang telah dibohong menjadi orang bingung.”

 

Hal ini dapat diketahui menurut peneliti bahwa nilai kearifan lokal dalam berbohong merupakan hal buruk yang tidak boleh dilakukan, karena pada dasarnya kejujuran akan membawa kita ke dalam hal-hal yang baik. Akibat dari melanggar pamali dilarang berbohong di area Tugu Waseso maka orang yang berbohong tersebut meninggal dunia dan korbannya menjadi orang bingung.

e.     Dilarang membakar kemenyan di atas Tugu Waseso untuk hal-hal yang kurang baik

Orang-orang yang berkunjung atau datang ke Tugu Waseso tidak diperbolehkan untuk membakar kemenyan di atas tugu untuk hal yang kurang baik. Hal ini dapat diketahui berdasarkan penuturan narasumber (S) pada petikan cerita tersebut sebagai berikut.

“Jangan membakar kemenyan di atas Tugu Waseso untuk hal-hal yang kurang baik, karena belum lama terdapat kejadian bahwa orang tersebut jatuh dari atas Tugu kemudian meninggal dunia dalam keadaan yang mengenaskan.”

 

Hal ini dapat diketahui bahwa nilai kearifan lokal membakar kemenyan merupakan hal yang biasa dilakukan di area Tugu Waseso untuk hal-hal baik. Membakar kemenyan menurut peneliti tidak diperbolehkan di atas Tugu Waseso, melainkan di tempat yang memang sudah diizinkan untuk membakarnya. Tujuan membakar kemenyan menurut ajaran Islam digunakan untuk wewangian dan tidak digunakan untuk hal-hal buruk seperti meminta pesugihan dan akan berdampak buruk kepada orang yang melanggarnya.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dinyatakan bahwa larangan dari legenda Tugu Waseso yang harus dipatuhi oleh masyarakat dari semua kalangan yakni larangan meludah sembarangan, larangan membelakangi empat pancuran, larangan berbicara kotor atau jelek, larangan berbohong di area Tugu Waseso dan larangan membakar kemenyan di atas Tugu Waseso untuk hal-hal yang kurang baik.

 

 

2.      Anjuran

Selain larangan, dalam legenda Tugu Waseso juga terdapat anjuran yang harus dilakukan masyarakat jika akan berkunjung, berziarah pada area tersebut. Anjuran merupakan nasihat untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan (KBBI: 2016). Anjuran yang terdapat pada legenda Tugu Waseso antara lain.

a.       Anjuran mengucapkan salam atau kulo nuwun

Masyarakat khususnya pengunjung jika berziarah dan masuk ke dalam area Tugu Waseso harus mengucapkan salam atau kulo nuwun. Hal ini diketahui berdasarkan penuturan narasumber (S) petikan cerita tersebut sebagai berikut.

“Apabila hendak ziarah atau masuk ke area Tugu  Waseso harus mengucapkan salam atau kulo nuwun karena tempat tersebut merupakan area pemakaman dan salah satunya makam Ki Karsoredjo, Kyai Malang Sumirang (Menantu dari Ki Ageng Gribig Jatinom).”

Mengucapkan salam menurut agama Islam merupakan adab yang dianjurkan untuk seluruh umat. Karena jika hendak memasuki tempat harus menghormati yang ada di kawasan tersebut baik sesepuh yang sudah meninggal atau menghormati makhluk yang bertempat tinggal atau bersemayam. Secara nilai sosial, jika seseorang yang hendak memasuki tempat apapun harus uluk salam dalam tuturan orang Jawa pada zaman dahulu.

b.      Anjuran menggunakan pakaian yang santun dan wajar

Orang-orang yang berziarah atau datang ke area Tugu Waseso harus menggunakan pakaian yang santun dan wajar. Karena pakaian yang baik akan memperlihatkan keindahan, kesantunan, kerapian bagi yang memakainya. Hal ini diketahui berdasarkan penuturan narasumber (S) petikan cerita tersebut sebagai berikut.

“Memakai baju harus sopan dan wajar. Jangan menutupi badan menggunakan sarung secara tertutup atau biasa di sebut seperti maling karena belum lama terdapat kejadian orang tersebut di gigit oleh seekor ular.”

        Menurut peneliti menggunakan pakaian yang santun, bagus dan wajar digunakan untuk berziarah karena merupakan kegiatan yang bersifat religi.  Sehingga, hal terkecil sebagai pendatang yang berziarah merupakan bentuk kita dalam menghargai dan menghomati tempat sakral tersebut.

c.       Anjuran apabila ingin meminta kesembuhan bagi yang sedang sakit

Orang-orang yang datang untuk meminta kesembuhan bagi yang sedang sakit harus melewati proses aturan yang ada. Hal ini diketahui berdasarkan penuturan narasumber (S) petikan cerita tersebut sebagai berikut.

“Apabila ingin meminta kesembuhan bagi yang sedang sakit harus ke pancuran yang ada di dekat Menara Baskoro dengan aturan kalau mengambil air dengan membuka tutup botol dengan tangan kanan dan mengambilnya dari pancuran dengan tangan kiri. Jika ingin mengambil air dari pancuran tersebut harus menggunakan botol atau wadah dengan warna putih atau bening dan tidak berwarna.”

        Hal ini dapat diketahui bahwa peziarah yang datang ke Tugu Waseso untuk meminta kesembuhan, selain adanya tugu terdapat air pancuran yang masih diyakini dan dipercaya sebagai air untuk meminta kesembuhan bagi orang yang sakit.

      Anjuran legenda Tugu Waseso kepada masyarakat meliputi (1) anjuran mengucapkan salam atau kulo nuwun, (2) anjuran menggunakan pakaian yang santun dan wajar, (3) anjuran apabila ingin meminta kesembuhan bagi yang sedang sakit. Anjuran legenda yang terdapat di Tugu Waseso harus ditaati masyarakat. 

3.     Nilai-nilai kearifan lokal

      Berdasarkan pamali (larangan) dan anjuran yang terdapat pada legenda Tugu Waseso terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya sebagai berikut. 

a.      Kesantunan

Nilai kearifan lokal kesantunan ditemukan dalam legenda Tugu Waseso. Nilai ini ditujukan kepada semua masyarakat khususnya bagi pengunjung di Tugu Waseso. Nilai kesantunan di dalam teks ditandai dengan simbol anjuran yaitu jika ingin memasuki ruangan hendaknya merunduk sebagai tanda kehormatan, mengucapkan salam atau kulo nuwun, menggunakan pakaian harus santun dan wajar. Selain itu terdapat simbol berupa pamali yaitu larangan meludah, tidak boleh berbicara jelek atau kotor. Nilai ini dapat dibuktikan pada:

“Bangunan Tugu Waseso mempunyai satu pintu pendek dengan ciri khas orang Jawa, bila memasuki ruangan hendaknya merunduk sebagai tanda penghormatan..”

“Apabila hendak ziarah atau masuk ke area Tugu  Waseso harus mengucapkan salam atau kulo nuwun karena tempat tersebut merupakan area pemakaman dan salah satunya makam Ki Karsoredjo, Kyai Malang Sumirang (Menantu dari Ki Ageng Gribig Jatinom)..”

“Jangan meludah di area Tugu Waseso karena kawasan tersebut merupakan tempat suci, sehingga sebagai masyarakat khususnya tamu pendatang harus menjaga kesantunan dan membuang ludah merupakan salah satu yang tidak sopan apabila dilakukan di tempat suci dan kawasan tersebut terdapat makam.”

“Memakai baju harus sopan dan wajar. Jangan menutupi badan menggunakan sarung secara tertutup atau biasa disebut seperti maling karena belum lama terdapat kejadian orang tersebut di gigit oleh seekor ular..”

“Apabila jika berkunjung di Tugu Waseso tidak boleh bicara jelek atau kotor. Karena berkata kotor bisa menimbulkan kemarahan hingga dendam dari orang yang berbicara dengan kata-kata yang kasar.”

Kutipan tersebut membuktikan bahwa nilai kearifan lokal kesantunan terdapat dalam legenda Tugu Waseso. Nilai kesantunan harus dilakukan pada masyarakat khususnya pengunjung atau peziarah yang akan datang ke area Tugu Waseso, karena berperilaku santun tidak ada batasannya yang diterapkan pada tempat yang dianggap sakral dan suci oleh masyarakat setempat.

b.      Kejujuran

Nilai kearifan lokal kejujuran ditemukan dalam legenda Tugu Waseso. Nilai ini ditujukan kepada semua masyarakat khususnya bagi pengunjung di Tugu Waseso. Nilai kejujuran diartikan sebagai sikap atau perilaku yang menyatakan secara fakta. Nilai kejujuran dalam teks ditandai dengan simbol pamali berupa ungkapan “dilarang berbohong di area tersebut”. Kejujuran diajarkan agar terhindar dari hal buruk karena pada dasarnya kejujuran akan membawa ke dalam hal-hal yang baik. Nilai kejujuran harus dilakukan oleh semua masyarakat khususnya pengunjung atau peziarah yang harus menyampaikan niat atau tujuannya datang ke Tugu Waseso. Kutipan nilai tersebut dapat dibuktikan pada:

“Jangan suka berbohong di area tersebut, karena belum lama ada seseorang yang mengakui Kyai dari Beji kemudian membohongi orang Solo. Setelah itu, karena telah membohongi di area tersebut pelaku atau orang yang mengaku Kyai tersebut meninggal dan orang yang telah dibohong menjadi orang bingung.”

 

Kutipan teks tersebut membuktikan bahwa nilai kearifan lokal kejujuran terdapat dalam legenda Tugu Waseso. Setiap masyarakat atau pengunjung harus mempunyai niat yang baik dan jujur untuk datang ke tempat tersebut.

c.       Komitmen

Nilai kearifan lokal komitmen ditemukan dalam legenda Tugu Waseso. Nilai komitmen di dalam teks ditandai dengan simbol anjuran yang ditujukan kepada semua masyarakat khususnya pengunjung untuk mematuhi aturan-aturan yang terdapat di area Tugu Waseso. Adapun bukti nilai dari teks legenda tersebut adalah sebagai berikut:

...

“Apabila hendak ziarah atau masuk ke area Tugu  Waseso harus mengucapkan salam atau kulo nuwun karena tempat tersebut merupakan area pemakaman dan salah satunya makam Ki Karsoredjo, Kyai Malang Sumirang (Menantu dari Ki Ageng Gribig Jatinom).”

“Memakai baju harus sopan dan wajar. Jangan menutupi badan menggunakan sarung secara tertutup atau biasa di sebut seperti maling karena belum lama terdapat kejadian orang tersebut di gigit oleh seekor ular.”

“Apabila ingin meminta kesembuhan bagi yang sedang sakit harus ke pancuran yang ada di dekat Menara Baskoro dengan aturan kalau mengambil air dengan membuka tutup botol dengan tangan kanan dan mengambilnya dari pancuran dengan tangan kiri. Jika ingin mengambil air dari pancuran tersebut harus menggunakan botol atau wadah dengan warna putih atau bening dan tidak berwarna.”

        Kutipan-kutipan tersebut membuktikan bahwa nilai kearifan lokal komitmen terdapat dalam legenda Tugu Waseso. Nilai komitmen menunjukkan bahwa semua masyarakat khususnya pengunjung atau peziarah harus mematuhi aturan-aturan (pamali dan anjuran) yang terdapat di area Tugu Waseso. Komitmen tersebut berfungsi agar masyarakat yang datang tetap menjaga, menghormati dan menjaga tempat sesuai dengan aturan tersebut.  

d.      Gotong Royong

Nilai kearifan lokal gotong royong ditemukan dalam legenda Tugu Waseso. Nilai ini ditandai dengan simbol anjuran yang terdapat pada semangat gotong royong masyarakat dalam membangun Tugu Waseso di tempat pertemuan dari Ir. Soekarno dan Ki Karsoredjo yang dilakukan oleh seluruh warga Pandanan, ungkapan teks, kerabat dekat, masyarakat, bupati, camat dan anggota kelurahan Soropaten sebagai simbolik peringatan bagi sejarah Indonesia. Gotong royong merupakan kegiatan yang dilakukan bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan hingga selesai. Perilaku ini seperti yang dilakukan oleh masyarakat tersebut dalam membangun Tugu Waseso. Adapun nilai dari teks legenda tersebut dapat dibuktikan pada:

“Di tempat bertemunya kedua orang hebat itulah kemudian dibangun Tugu Waseso, dengan semangat gotong royong oleh seluruh warga Pandanan, kerabat dekat, dan masyarakat pada umumnya, beserta bupati, camat, dan anggota kelurahan Soropaten sebagai simbolik peringatan bagi sejarah Indonesia.”

Kutipan tersebut dapat membuktikan bahwa nilai kearifan lokal gotong royong terdapat dalam legenda Tugu Waseso. Nilai gotong royong patut dicontoh dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan melaksanakan kegiatan secara gotong royong dapat meningkatkan rasa kekeluargaan, kerukunan antaranggota masyarakat dan tokoh-tokoh penting.

e.       Pendidikan

Nilai kearifan lokal pendidikan ditemukan dalam legenda Tugu Waseso. Nilai ini mengarah pada pendidikan keagamaan. Nilai pendidikan di dalam teks ditandai dengan simbol anjuran untuk mengucapkan salam atau kulo nuwun saat memasuki area Tugu Waseso, karena selain adanya tugu juga terdapat makam. Bukti adanya nilai ini dapat dibuktikan pada:

“Apabila hendak ziarah atau masuk ke area Tugu  Waseso harus mengucapkan salam atau kulo nuwun karena tempat tersebut merupakan area pemakaman dan salah satunya makam Ki Karsoredjo, Kyai Malang Sumirang (Menantu dari Ki Ageng Gribig Jatinom).”

Kutipan tersebut membuktikan bahwa legenda Tugu Waseso mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang digunakan sebagai teladan dalam adab mengucapkan salam atau kulo nuwun di segala sesuatu tempat untuk nilai pendidikan.

f.        Rasa Syukur

Nilai kearifan lokal rasa syukur ditemukan dalam legenda Tugu Waseso. Nilai ini ditemukan di dalam teks ditandai dengan simbol anjuran pada keyakinan masyarakat agar tidak sombong setelah mencapai kesuksesan. Kutipan ini dapat dibuktikan pada:

“Tinggi bangunan Tugu Waseso adalah 12 meter dan lebar 4 meter. Ketinggian tersebut melambangkan, bila seseorang telah mencapai puncak atas jangan lupa untuk menoleh kebawah dan memberi pelajaran supaya tidak sombong setelah mencapai kesuksesan.”

Kutipan tersebut membuktikan bahwa nilai kearifan lokal rasa syukur terdapat dalam legenda Tugu Waseso. Nilai rasa syukur di tunjukkan oleh keyakinan masyarakat bahwa jika ada seseorang telah mencapai puncak atas jangan lupa untuk menoleh kebawah. Hal ini dilakukan sebagai bentuk syukur dan memberikan pelajaran supaya tidak sombong setelah mencapai kesuksesan.”

g.      Pelestarian dan kreativitas budaya

Nilai kearifan lokal pelestarian dan kreativitas budaya ditemukan dalam legenda Tugu Waseso. Nilai ini di dalam teks ditandai dengan simbol anjuran untuk melestarikan cerita Tugu Waseso menjadi sebuah naskah dan blogspot yang telah dibuat peneliti. Pelestarian Tugu Waseso dilakukan dengan cara transformasi kemudian dibukukan. Hal ini digunakan sebagai upaya memanfaatkan, melindungi dan mengelola suatu hal supaya terjaga kelestariannya. Sedangkan kreativitas budaya adalah kebudayaan-kebudayaan yang terdapat dalam Tugu Waseso tersebut. Adapun kutipan nilai ini dapat dibuktikan pada:

...

“Lantas tempat pertemuan antara Ir. Soekarno dan Ki Karsoredjo itu dibangun tugu sebagai pengingat. Tugu itu diberi nama Waseso yang artinya kuat. Saat ini, Tugu Waseso kian moncer setelah banyak orang yang datang ke tempat itu untuk berziarah, meminta kesembuhan dan mengunggah swafoto mereka di media sosial.”

...

Kutipan tersebut membuktikan bahwa terdapat nilai pelestarian dan kreativitas budaya yang terkandung dalam legenda Tugu Waseso.

Kearifan lokal perlu dilestarikan untuk memperkokoh ketahanan budaya. Ketahanan budaya lokal tercermin dari eksisnya kegiatan atau pranata sosial, yang berfungsi melayani pengintegrasian kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaannya pada tingkat lokal, sedangkan tingkat masyarakat yang lebih majemuk pranata sosial berfungsi melayani berbagai kelompok kebudayaan pada tingkat nasional (Ismawati & Warsito, 2019: 2).

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal perlu dilestarikan karena untuk memperkokoh ketahanan budaya. Dengan adanya kearifan lokal, nilai-nilai, tradisi, dan kebudayaan masyarakat akan tetap terjaga dan dihormati. 


             

                

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda