Senin, 10 April 2023

Nilai-nilai Pendidikan Karakter pada Nilai-nilai Kearifan Lokal Legenda Tugu Waseso

 

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA

NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL LEGENDA TUGU WASESO KLATEN

Dalam legenda Tugu Waseso terdapat nilai-nilai kearifan lokal antara lain (1) nilai kesantunan, (2) nilai kejujuran, (3) nilai komitmen, (4) nilai gotong royong, (5) nilai pendidikan, (6) nilai rasa syukur, dan (7) nilai pelestarian dan kreativitas budaya. Nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat dalam legenda Tugu Waseso mengandung nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat digunakan sebagai pembentuk karakter anak. Adapun nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam nilai-nilai kearifan lokal legenda Tugu Waseso sebagai berikut.

1.      Jujur

Di dalam legenda Tugu Waseso terkandung nilai pendidikan karakter jujur. Jujur merupakan sikap yang lurus hati, menyatakan yang sebenar-benarnya, tidak berbohong (KBBI, 2016). Karakter jujur sangat penting dan harus dimiliki oleh setiap orang. Nilai pendidikan karakter jujur mempunyai keterkaitan dengan nilai kearifan lokal kejujuran. Dengan bersikap jujur, maka seseorang dapat dipercaya, baik tindakan maupun perkataan.

Nilai karakter jujur dalam legenda Tugu Waseso dibuktikan dengan adanya larangan agar tidak berkata bohong di sembarang tempat.  Nilai ini dapat dibuktikan pada kutipan berikut.

     

“Jangan suka berbohong di area tersebut, karena belum lama ada seseorang yang mengaku Kyai dari Beji kemudian membohongi orang Solo. Setelah itu, karena telah membohongi di area tersebut pelaku atau orang yang mengaku Kyai tersebut meninggal dan orang yang telah dibohong menjadi orang bingung.”

 

Maka, akibat dari berkata bohong dapat merugikan diri sendiri bahkan orang lain.

           

2.      Disiplin

Di dalam legenda Tugu Waseso terkandung nilai pendidikan karakter disiplin. Disiplin merupakan sikap ketaatan dan kepatuhan terhadap nilai-nilai yang dipercaya dan menjadi tanggung jawabnya (KBBI, 2016).  Karakter disiplin mempunyai keterkaitan dengan nilai kearifan lokal kesantunan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa segala bentuk aturan disiplin akan menanamkan sikap atau perilaku tertib dan mengajarkan keteraturan yang santun.

Kedisiplinan dalam legenda Tugu Waseso dibuktikan dengan adanya pamali dan aturan yang harus dipatuhi oleh masyarakat khususnya pengunjung yang datang. Dengan adanya pamali dan aturan dapat mengajarkan kepada masyarakat karakter disiplin pada diri seseorang. Adapun nilai ini dapat dibuktikan pada kutipan berikut.

“Bangunan Tugu Waseso mempunyai ruangan hendaknya merunduk sebagai tanda penghormatan.”

“Apabila hendak ziarah atau masuk ke area Tugu  Waseso harus mengucapkan salam atau kulo nuwun karena tempat tersebut merupakan area pemakaman dan salah satunya makam Ki Karsoredjo, Kyai Malang Sumirang (Menantu dari Ki Ageng Gribig Jatinom).”

“Memakai baju harus sopan dan wajar. Jangan menutupi badan menggunakan sarung secara tertutup atau biasa di sebut seperti maling karena belum lama terdapat kejadian orang tersebut di gigit oleh seekor ular.”

“Apabila jika berkunjung di Tugu Waseso tidak boleh bicara jelek atau kotor. Karena berkata kotor bisa menimbulkan kemarahan hingga dendam dari orang yang berbicara dengan kata-kata yang kasar.”

“Jangan meludah di area Tugu Waseso karena kawasan tersebut merupakan tempat suci, sehingga sebagai masyarakat khususnya tamu pendatang harus menjaga kesantunan dan membuang ludah merupakan salah satu yang tidak sopan apabila dilakukan di tempat suci dan kawasan tersebut terdapat makam.”

3.      Semangat Kebangsaan

Di dalam legenda Tugu Waseso terkandung nilai pendidikan karakter semangat kebangsaan. Karakter semangat kebangsaan mempunyai keterkaitan dengan nilai kearifan lokal gotong royong. Gotong royong mengandung sikap kebersamaan, kekeluargaan dan persatuan. Sikap tersebut harus dimiliki oleh masyarakat karena merupakan sifat semangat kebangsaan. Adapun kegiatan gotong royong, harus dilakukan untuk membangun semangat kebangsaan. Sikap semacam itu mengajarkan kepada masyarakat tentang karakter semangat kebangsaan. Hal ini diitunjukkan adanya kebersamaan masyarakat dalam membangun Tugu Waseso. Bukti adanya semangat kebangsaan dalam legenda Tugu Waseso dibuktikan pada kutipan berikut. 

“Ditempat bertemunya kedua orang hebat itulah kemudian dibangun Tugu Waseso, dengan semangat gotong royong oleh warga Pandanan, kerabat dekat, masyarakat pada umumnya, bupati, camat dan anggota Soropaten sebagai simbolik peringatan bagi sejarah Indonesia.”

 

4.      Toleransi

Di dalam legenda Tugu Waseso terkandung nilai pendidikan karakter toleransi. Toleransi merupakan sifat atau sikap toleran (KBBI, 2016). Karakter toleransi mempunyai keterkaitan dengan nilai kearifan lokal kesantunan. Hal semacam itu merupakan upaya untuk menghormati dan menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, perilaku yang dapat ditunjukkan sebagai sikap toleransi dan media pengajaran berupa keteraturan yang santun.

Dengan menanamkan karakter toleransi sejak kecil, maka seseorang dapat menghormati dan menghargai orang lain. Selain itu, dapat ditanamkan sebagai sarana untuk menghormati tempat-tempat yang dianggap sakral (tugu, pancuran, makam, dan lain-lain). Adapun bukti dari teks legenda tersebut adalah.

“Apabila hendak ziarah atau masuk ke area Tugu  Waseso harus mengucapkan salam atau kulo nuwun karena tempat tersebut merupakan area pemakaman dan salah satunya makam Ki Karsoredjo, Kyai Malang Sumirang (Menantu dari Ki Ageng Gribig Jatinom).”

 

5.      Bersahabat/Komunikatif

Di dalam legenda Tugu Waseso terkandung nilai pendidikan karakter bersahabat/komunikatif. Bersahabat/komunikatif merupakan suatu tindakan dalam keadaan saling dapat berhubungan (KBBI, 2016). Karakter bersahabat/komunikatif berkaitan dengan nilai kearifan lokal gotong royong. Kegiatan ini akan membuat seseorang dapat bergaul, bekerja sama dengan orang lain dan mempunyai sikap yang tulus. Tindakan itu dapat menumbuhkan karakter bersahabat/ komunikatif. Dalam legenda Tugu Waseso karakter bersahabat/ komunikatif dapat dibuktikan dengan adanya sikap ketulusan dalam membangun sebuah monumen tugu. Hal ini dapat dibuktikan dalam Tugu Waseso  pada kutipan berikut.

“Ditempat bertemunya kedua orang hebat itulah kemudian dibangun Tugu Waseso, dengan semangat gotong royong oleh warga Pandanan, kerabat dekat, masyarakat pada umumnya, bupati, camat dan anggota Soropaten sebagai simbolik peringatan bagi sejarah Indonesia.”

6.      Peduli Sosial

Di dalam legenda Tugu Waseso terkandung nilai pendidikan karakter peduli sosial. Peduli sosial merupakan sikap atau tindakan dalam memberikan bantuan yang berkenaan dengan masyarakat (KBBI, 2016). Karakter peduli sosial mempunyai keterkaitan dengan nilai kearifan lokal gotong royong. Kegiatan gotong royong dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan secara bersama-sama dan pekerjaan cepat selesai. Karakter peduli sosial dapat dibuktikan dengan adanya kegiatan pembangunan sebuah monumen Tugu Waseso yang dilakukan secara bersama-sama. Adapun buktinya sebagai berikut.

“Ditempat bertemunya kedua orang hebat itulah kemudian dibangun Tugu Waseso, dengan semangat gotong royong oleh warga Pandanan, kerabat dekat, masyarakat pada umumnya, bupati, camat dan anggota Soropaten sebagai simbolik peringatan bagi sejarah Indonesia.”

 

7.      Tanggung Jawab

Di dalam legenda Tugu Waseso terkandung nilai pendidikan karakter tanggung jawab. Tanggung jawab merupakan keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (KBBI, 2016). Karakter tanggung jawab mempunyai keterkaitan dengan nilai kearifan lokal komitmen. Seseorang mempunyai tugas dan kewajiban yang baik akan menunjukkan sikap dan perilaku yang baik. Dalam legenda Tugu Waseso, karakter tanggung jawab dapat dibuktikan dengan kepatuhan masyarakat khususnya pengunjung terhadap aturan yang diberlakukan. Aturan-aturan yang berlaku di Tugu Waseso harus dipatuhi oleh masyarakat setempat, juru kunci (kuncen) maupun semua pengunjung yang datang. Demikian, komitmen masyarakat untuk bertanggung jawab agar lebih menghormati, melaksanakan dan mematuhi aturan yang berlaku di area Tugu Waseso. Hal ini dapat dibuktikan pada kutipan berikut.

“Apabila hendak ziarah atau masuk ke area Tugu  Waseso harus mengucapkan salam atau kulo nuwun karena tempat tersebut merupakan area pemakaman dan salah satunya makam Ki Karsoredjo, Kyai Malang Sumirang (Menantu dari Ki Ageng Gribig Jatinom).”

“Memakai baju harus sopan dan wajar. Jangan menutupi badan menggunakan sarung secara tertutup atau biasa di sebut seperti maling karena belum lama terdapat kejadian orang tersebut di gigit oleh seekor ular.”

“Apabila jika berkunjung di Tugu Waseso tidak boleh bicara jelek atau kotor. Karena berkata kotor bisa menimbulkan kemarahan hingga dendam dari orang yang berbicara dengan kata-kata yang kasar.”

“Jangan meludah di area Tugu Waseso karena kawasan tersebut merupakan tempat suci, sehingga sebagai masyarakat khususnya tamu pendatang harus menjaga kesantunan dan membuang ludah merupakan salah satu yang tidak sopan apabila dilakukan di tempat suci dan kawasan tersebut terdapat makam.”

Berdasarkan uraian yang terkumpul dari narasumber (S) dan sesuai pendapat William R. Bascom (1954: 343-346) maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

a.       Sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan.

Legenda Tugu Waseso dapat digunakan sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya aturan yang berasal dari legenda Tugu Waseso berupa mengucapkan salam atau kulo nuwun, menggunakan pakaian yang santun dan wajar, larangan meludah sembarangan, larangan membelakangi empat pancuran, larangan berbicara kotor dan jelek, larangan berbohong dan larangan membakar kemenyan di atas Tugu Waseso untuk hal-hal yang kurang baik. Selain itu, Tugu Waseso sebagai lembaga kebudayaan berupa menyatukan kebersamaan masyarakat (gotong royong, pelestarian dan kreativitas budaya).  Tradisi budaya Jawa yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah wayangan, suro, kirab budaya dan sadranan. Kegiatan wayangan dilaksanakan setiap Jum’at Pon yang diadakan di bangsal makam. Kegiatan suro dan kirab budaya dilaksanakan pada tanggal 8 sesuai kalender Jawa di bulan suro dan kegiatan sadranan dilaksanakan tanggal 20 pada hitungan Jawa lama.

b.      Sebagai alat pendidikan kepada masyarakat.

Nilai-nilai kearifan lokal dan nilai pendidikan karakter dalam legenda Tugu Waseso dapat digunakan sebagai alat pendidikan bagi masyarakat untuk meningkatkan kejujuran, meningkatkan kedisiplinan, bekerjasama, meningkatkan toleransi, meningkatkan kebersamaan, meningkatkan kepekaan sosial dan meningkatkan rasa tanggung jawab. Tujuan tersebut disampaikan dengan cara memberikan contoh yang baik kepada masyarakat baik berupa lisan maupun tidak lisan.

c.       Sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan tetap berlaku dan dipatuhi secara kolektifnya.

Legenda Tugu Waseso dapat digunakan sebagai pengawasan masyarakat. Hal ini dapat digunakan dengan adanya pamali dan anjuran yang harus dipatuhi oleh masyarakat setempat, juru kunci (kuncen) dan pengunjung yang datang. Alat pemaksa dan pengawas berupa pamali yang terdapat dalam legenda Tugu Waseso meliputi larangan meludah sembarangan, larangan membelakangi empat pancuran yang terdapat di Tugu Waseso, larangan berkata kotor atau jelek, larangan berbohong, larangan membakar kemenyan di atas Tugu Waseso untuk hal-hal yang kurang baik apabila semua pamali tersebut dilanggar akan berdampak buruk dan mendapatkan cilaka atau kesialan bagi yang melakukan. Alat pemaksa dan pengawas selanjutnya berupa anjuran yang terdapat pada legenda Tugu Waseso meliputi anjuran mengucapkan salam atau kulo nuwun, anjuran menggunakan pakaian yang sopan dan wajar, anjuran apabila ingin meminta kesembuhan bagi yang sedang sakit.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda