Nilai-nilai Pendidikan Karakter pada Nilai-nilai Kearifan Lokal Legenda Tugu Waseso
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA
NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL LEGENDA TUGU
WASESO KLATEN
Dalam legenda Tugu Waseso terdapat nilai-nilai
kearifan lokal antara lain (1) nilai kesantunan, (2) nilai kejujuran, (3) nilai
komitmen, (4) nilai gotong royong, (5) nilai pendidikan, (6) nilai rasa syukur,
dan (7) nilai pelestarian dan kreativitas budaya. Nilai-nilai kearifan lokal
yang terdapat dalam legenda Tugu Waseso
mengandung nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat digunakan sebagai pembentuk
karakter anak. Adapun nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam
nilai-nilai kearifan lokal legenda Tugu
Waseso sebagai berikut.
1.
Jujur
Di
dalam legenda Tugu Waseso terkandung
nilai pendidikan karakter jujur. Jujur merupakan sikap yang lurus hati,
menyatakan yang sebenar-benarnya, tidak berbohong (KBBI, 2016). Karakter jujur
sangat penting dan harus dimiliki oleh setiap orang. Nilai pendidikan karakter
jujur mempunyai keterkaitan dengan nilai kearifan lokal kejujuran. Dengan bersikap
jujur, maka seseorang dapat dipercaya, baik tindakan maupun perkataan.
Nilai karakter jujur
dalam legenda Tugu Waseso dibuktikan
dengan adanya larangan agar tidak berkata bohong di sembarang tempat. Nilai ini dapat dibuktikan pada kutipan
berikut.
…
“Jangan
suka berbohong di area tersebut, karena belum lama ada seseorang yang mengaku
Kyai dari Beji kemudian membohongi orang Solo. Setelah itu, karena telah
membohongi di area tersebut pelaku atau orang yang mengaku Kyai tersebut
meninggal dan orang yang telah dibohong menjadi orang bingung.”
…
Maka,
akibat dari berkata bohong dapat merugikan diri sendiri bahkan orang lain.
2.
Disiplin
Di dalam legenda Tugu Waseso terkandung nilai pendidikan
karakter disiplin. Disiplin merupakan sikap ketaatan dan kepatuhan terhadap
nilai-nilai yang dipercaya dan menjadi tanggung jawabnya (KBBI, 2016). Karakter disiplin mempunyai keterkaitan
dengan nilai kearifan lokal kesantunan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa segala
bentuk aturan disiplin akan menanamkan sikap atau perilaku tertib dan
mengajarkan keteraturan yang santun.
Kedisiplinan
dalam legenda Tugu Waseso dibuktikan
dengan adanya pamali dan aturan yang harus dipatuhi oleh masyarakat khususnya pengunjung
yang datang. Dengan adanya pamali dan aturan dapat mengajarkan kepada
masyarakat karakter disiplin pada diri seseorang. Adapun nilai ini dapat
dibuktikan pada kutipan berikut.
…
“Bangunan
Tugu Waseso mempunyai ruangan
hendaknya merunduk sebagai tanda penghormatan.”
…
“Apabila hendak
ziarah atau masuk ke area Tugu Waseso harus mengucapkan salam atau kulo
nuwun karena tempat tersebut merupakan area pemakaman dan salah satunya makam
Ki Karsoredjo, Kyai Malang Sumirang (Menantu dari Ki Ageng Gribig Jatinom).”
…
“Memakai baju
harus sopan dan wajar. Jangan menutupi badan menggunakan sarung secara tertutup
atau biasa di sebut seperti maling karena belum lama terdapat kejadian orang
tersebut di gigit oleh seekor ular.”
…
“Apabila jika berkunjung di Tugu Waseso tidak boleh bicara jelek atau kotor. Karena berkata kotor bisa menimbulkan kemarahan hingga dendam dari orang yang berbicara dengan kata-kata yang kasar.”
…
“Jangan
meludah di area Tugu Waseso karena
kawasan tersebut merupakan tempat suci, sehingga sebagai masyarakat khususnya tamu
pendatang harus menjaga kesantunan dan membuang ludah merupakan salah satu yang
tidak sopan apabila dilakukan di tempat suci dan kawasan tersebut terdapat
makam.”
…
3.
Semangat
Kebangsaan
Di dalam legenda Tugu Waseso terkandung nilai pendidikan karakter semangat kebangsaan.
Karakter semangat kebangsaan mempunyai keterkaitan dengan nilai kearifan lokal
gotong royong. Gotong royong mengandung sikap kebersamaan, kekeluargaan dan
persatuan. Sikap tersebut harus dimiliki oleh masyarakat karena merupakan sifat
semangat kebangsaan. Adapun kegiatan gotong royong, harus dilakukan untuk
membangun semangat kebangsaan. Sikap semacam itu mengajarkan kepada masyarakat
tentang karakter semangat kebangsaan. Hal ini diitunjukkan adanya kebersamaan
masyarakat dalam membangun Tugu Waseso.
Bukti adanya semangat kebangsaan dalam legenda Tugu Waseso dibuktikan pada kutipan berikut.
…
“Ditempat
bertemunya kedua orang hebat itulah kemudian dibangun Tugu Waseso, dengan semangat gotong royong oleh warga Pandanan,
kerabat dekat, masyarakat pada umumnya, bupati, camat dan anggota Soropaten
sebagai simbolik peringatan bagi sejarah Indonesia.”
…
4.
Toleransi
Di
dalam legenda Tugu Waseso terkandung
nilai pendidikan karakter toleransi. Toleransi merupakan sifat atau sikap
toleran (KBBI, 2016). Karakter toleransi mempunyai keterkaitan dengan nilai
kearifan lokal kesantunan. Hal semacam itu merupakan upaya untuk menghormati
dan menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, perilaku yang dapat
ditunjukkan sebagai sikap toleransi dan media pengajaran berupa keteraturan
yang santun.
Dengan
menanamkan karakter toleransi sejak kecil, maka seseorang dapat menghormati dan
menghargai orang lain. Selain itu, dapat ditanamkan sebagai sarana untuk
menghormati tempat-tempat yang dianggap sakral (tugu, pancuran, makam, dan
lain-lain). Adapun bukti dari teks legenda tersebut adalah.
…
“Apabila hendak
ziarah atau masuk ke area Tugu Waseso harus mengucapkan salam atau kulo
nuwun karena tempat tersebut merupakan area pemakaman dan salah satunya makam
Ki Karsoredjo, Kyai Malang Sumirang (Menantu dari Ki Ageng Gribig Jatinom).”
…
5.
Bersahabat/Komunikatif
Di dalam legenda Tugu
Waseso terkandung nilai pendidikan karakter bersahabat/komunikatif. Bersahabat/komunikatif
merupakan suatu tindakan dalam keadaan saling dapat berhubungan (KBBI, 2016). Karakter
bersahabat/komunikatif berkaitan dengan nilai kearifan lokal gotong royong.
Kegiatan ini akan membuat seseorang dapat bergaul, bekerja sama dengan orang
lain dan mempunyai sikap yang tulus. Tindakan itu dapat menumbuhkan karakter
bersahabat/ komunikatif. Dalam legenda Tugu
Waseso karakter bersahabat/ komunikatif dapat dibuktikan dengan adanya
sikap ketulusan dalam membangun sebuah monumen tugu. Hal ini dapat dibuktikan
dalam Tugu Waseso pada kutipan berikut.
…
“Ditempat
bertemunya kedua orang hebat itulah kemudian dibangun Tugu Waseso, dengan semangat gotong royong oleh warga Pandanan,
kerabat dekat, masyarakat pada umumnya, bupati, camat dan anggota Soropaten
sebagai simbolik peringatan bagi sejarah Indonesia.”
…
6.
Peduli
Sosial
Di dalam legenda Tugu
Waseso terkandung nilai pendidikan karakter peduli sosial. Peduli sosial
merupakan sikap atau tindakan dalam memberikan bantuan yang berkenaan dengan
masyarakat (KBBI, 2016). Karakter peduli sosial mempunyai keterkaitan dengan
nilai kearifan lokal gotong royong. Kegiatan gotong royong dilakukan untuk
menyelesaikan pekerjaan secara bersama-sama dan pekerjaan cepat selesai.
Karakter peduli sosial dapat dibuktikan dengan adanya kegiatan pembangunan
sebuah monumen Tugu Waseso yang dilakukan secara bersama-sama. Adapun
buktinya sebagai berikut.
…
“Ditempat
bertemunya kedua orang hebat itulah kemudian dibangun Tugu Waseso, dengan semangat gotong royong oleh warga Pandanan,
kerabat dekat, masyarakat pada umumnya, bupati, camat dan anggota Soropaten
sebagai simbolik peringatan bagi sejarah Indonesia.”
…
7.
Tanggung
Jawab
Di
dalam legenda Tugu Waseso terkandung
nilai pendidikan karakter tanggung jawab. Tanggung jawab merupakan keadaan
wajib menanggung segala sesuatunya (KBBI, 2016). Karakter tanggung jawab
mempunyai keterkaitan dengan nilai kearifan lokal komitmen. Seseorang mempunyai
tugas dan kewajiban yang baik akan menunjukkan sikap dan perilaku yang baik.
Dalam legenda Tugu Waseso, karakter
tanggung jawab dapat dibuktikan dengan kepatuhan masyarakat khususnya
pengunjung terhadap aturan yang diberlakukan. Aturan-aturan yang berlaku di Tugu Waseso harus dipatuhi oleh
masyarakat setempat, juru kunci (kuncen)
maupun semua pengunjung yang datang. Demikian, komitmen masyarakat untuk
bertanggung jawab agar lebih menghormati, melaksanakan dan mematuhi aturan yang
berlaku di area Tugu Waseso. Hal ini
dapat dibuktikan pada kutipan berikut.
…
“Apabila
hendak ziarah atau masuk ke area Tugu Waseso harus mengucapkan salam atau kulo
nuwun karena tempat tersebut merupakan area pemakaman dan salah satunya makam
Ki Karsoredjo, Kyai Malang Sumirang (Menantu dari Ki Ageng Gribig Jatinom).”
…
“Memakai
baju harus sopan dan wajar. Jangan menutupi badan menggunakan sarung secara
tertutup atau biasa di sebut seperti maling karena belum lama terdapat kejadian
orang tersebut di gigit oleh seekor ular.”
…
“Apabila jika berkunjung di Tugu Waseso tidak boleh bicara jelek atau kotor. Karena berkata kotor bisa menimbulkan kemarahan hingga dendam dari orang yang berbicara dengan kata-kata yang kasar.”
…
“Jangan meludah di area Tugu Waseso karena kawasan tersebut
merupakan tempat suci, sehingga sebagai masyarakat khususnya tamu pendatang harus
menjaga kesantunan dan membuang ludah merupakan salah satu yang tidak sopan
apabila dilakukan di tempat suci dan kawasan tersebut terdapat makam.”
…
Berdasarkan uraian yang terkumpul
dari narasumber (S) dan sesuai pendapat William R. Bascom (1954: 343-346) maka
dapat disimpulkan sebagai berikut.
a. Sebagai
alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan.
Legenda
Tugu Waseso dapat digunakan sebagai
alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. Hal ini dapat
dibuktikan dengan adanya aturan yang berasal dari legenda Tugu Waseso berupa mengucapkan salam atau kulo nuwun, menggunakan
pakaian yang santun dan wajar, larangan meludah sembarangan, larangan
membelakangi empat pancuran, larangan berbicara kotor dan jelek, larangan
berbohong dan larangan membakar kemenyan di atas Tugu Waseso untuk hal-hal yang kurang baik. Selain itu, Tugu Waseso sebagai lembaga kebudayaan
berupa menyatukan kebersamaan masyarakat (gotong royong, pelestarian dan
kreativitas budaya). Tradisi budaya Jawa
yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah wayangan, suro, kirab budaya dan
sadranan. Kegiatan wayangan dilaksanakan setiap Jum’at Pon yang diadakan di
bangsal makam. Kegiatan suro dan kirab budaya dilaksanakan pada tanggal 8
sesuai kalender Jawa di bulan suro dan kegiatan sadranan dilaksanakan tanggal
20 pada hitungan Jawa lama.
b. Sebagai
alat pendidikan kepada masyarakat.
Nilai-nilai
kearifan lokal dan nilai pendidikan karakter dalam legenda Tugu Waseso dapat digunakan sebagai alat pendidikan bagi masyarakat
untuk meningkatkan kejujuran, meningkatkan kedisiplinan, bekerjasama,
meningkatkan toleransi, meningkatkan kebersamaan, meningkatkan kepekaan sosial
dan meningkatkan rasa tanggung jawab. Tujuan tersebut disampaikan dengan cara
memberikan contoh yang baik kepada masyarakat baik berupa lisan maupun tidak
lisan.
c. Sebagai
alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan tetap berlaku dan
dipatuhi secara kolektifnya.
Legenda
Tugu Waseso dapat digunakan sebagai
pengawasan masyarakat. Hal ini dapat digunakan dengan adanya pamali dan anjuran
yang harus dipatuhi oleh masyarakat setempat, juru kunci (kuncen) dan pengunjung yang datang. Alat pemaksa dan pengawas
berupa pamali yang terdapat dalam legenda Tugu
Waseso meliputi larangan meludah sembarangan, larangan membelakangi empat
pancuran yang terdapat di Tugu Waseso,
larangan berkata kotor atau jelek, larangan berbohong, larangan membakar
kemenyan di atas Tugu Waseso untuk
hal-hal yang kurang baik apabila semua pamali tersebut dilanggar akan berdampak
buruk dan mendapatkan cilaka atau kesialan bagi yang melakukan. Alat pemaksa
dan pengawas selanjutnya berupa anjuran yang terdapat pada legenda Tugu Waseso meliputi anjuran mengucapkan
salam atau kulo nuwun, anjuran menggunakan pakaian yang sopan dan wajar,
anjuran apabila ingin meminta kesembuhan bagi yang sedang sakit.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda